Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 30 November 2010

Oleh-oleh makan sendirian di Hokben

Hem..hari selasa ini saya menghabiskan waktu saya untuk berada di dalam kamar kos, guling-guling nggak jelas, bingung mikirin laporan yang enggan juga untuk selesai. Satu jam, dua jam, tiga jam, otak saya mulai panas dan perut ini sudah keroncongan. Saya belum makan dari pagi rupanya. Bingung juga merencanakan ke mana tujuan makan siang ini, sayang sekali menghabiskan uang untuk makan yang energinya tidak digunakan dengan optimal.

Aha! Ternyata masih ada kupon makan gratis setahun dari restoran makanan jepang, warisan dari kakak saya yang sekarang berada di jakarta. Pergilah saya ke sana. Makan siang sendirian! Terasa seperti anak ilang memang.... Anak ilang yang nggak punya uang.. Hehehe... (liat aja, clingak-clinguk sendirian, cuma bawa kupon gratisan)

Hari ini sedang ada pesta ulang tahun di restoran ini. Banyak anak TK betebaran. Saya tertarik melihat tingkah polah mereka. Sempat mengurungkan niat untuk memiliki anak kembar 3 setelah melihat segerombolan anak laki-laki berlari-lari di area bermain. Hm...kalau punya anak kembar 3 cowok semua, mau kayak apa bentuk rumah saya, lha kamar saya sendiri sudah berantakan. Apalagi kalau ditambah 3 anak kecil-kecil. Kasihan suami saya nanti. Hahahahaha (mengkhayal mode: ON)

Bicara tentang pesta ulang tahun anak, saya teringat pesta ulang tahun saya dulu. Saya, anak ke-2 dari 3 bersaudara adalah anak paling manja. Mungkin lebih tepatnya anak yang paling banyak maunya. Saya satu-satunya anak yang ulang tahunnya dirayakan. Pesta ulang tahun yang pertama adalah saat saya menginjak usia 5 tahun. Pesta yang kedua ketika saya kelas 5 SD. Saya malu untuk mengingat masa itu. Betapa tidak, saya meminta sesuatu yang luar biasa untuk keluarga saya. Pesta merupakan hal yang sangat..sangat...sangat besar waktu itu, sangat besar uang yang harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya terlalu kecil waktu itu untuk mau tahu kesulitan yang ada. Saya besar di lingkungan yang luar biasa. Saya bersekolah di sekolah favorit nomor 1 di kota saya, di kelas unggulan pula. Sifat buruk saya, tidak mau kalah dari yang lain, sudah ada sejak saya kecil. Jadi, ketika ada seorang teman yang merayakan ulang tahun di sekolah, saya juga ingin. Teman yang ingin saya tiru dalam merayakan ulang tahun sebenarnya tidak bisa dibandingkan dengan saya, karena keluarganya tentu lebih segalanya dari keluarga saya.

Ibu selalu mengajarkan tentang bagaimana hidup bersahaja. Ketika saya meminta hal yang mewah, ibu tidak menolaknya, tapi memperlihatkan bahwa segala sesuatu bisa dilakukan dengan suka cita walau itu sederhana. Saya ingin ibu merayakan ulang tahun saya dengan mengadakan pesta di restoran cepat saji yang baru di kota saya. Ibu menolak secara halus dan menawarkan untuk merayakan ulang tahun saya dengan membagikan nasi kuning buatan ibu untuk teman-teman di sekolah. Waktu itu saya mengiyakan tapi juga menolak. Kenapa hanya nasi kuning?? Nggak mentereng, menurut saya. Ibu hanya tersenyum waktu itu. Dan ibu sendiri yang memasakkan nasi kuning hingga mengantarkannya ke sekolah saya, yang berjarak 5 km dari rumah dan cukup menyita waktu untuk mencapainya dengan menggunakan angkutan kota. Ibu saya membawanya sendirian!!!!

Saya sungguh malu sekarang. Melihat acara ulang tahun seorang anak siang ini mengingatkan saya tentang masa lalu. Mengingatkan saya betapa orang tua saya memanjakan dan menyayangi saya. Dan bertambah malu ketika saya hingga saat ini belum bisa hidup bersahaja dan selalu melarikan diri dari masalah yang datang. Oleh-oleh makan siang kali ini adalah semangat baru untuk berjuang, demi orang tua yang selalu berusaha dan berdoa untuk saya di rumah.