Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 17 Mei 2020

PERSIAPAN LEBARAN 2020

Seharusnya tanggal 20 Mei ini saya akan terbang menggunakan pesawat Batik dengan rute HLP-JOG sepulang hari terakhir menjelang hari raya Idul Fitri. Tapi manusia hanya bisa berencana. Tiket penerbangan tersebut sudah saya refund dan sekarang saya harus mempersiapkan lebaran seorang diri. Tanpa di dekat orang tua, saudara, kerabat, kawan masa kecil, dan lainnya seperti waktu-waktu yang lalu.

Sedih? Tentu. Tapi ini bukanlah lebaran pertama saya jauh dari keluarga. Tahun 2016-2017 saya sudah pernah merasakan suasana puasa lebaran yang lebih berat. Tidak sepenuhnya berat sih, karena saya tetap berusaha menikmatinya. Itu merupakan tahun-tahun saya bekerja di dunia ritel. Tahun pertama ramadhan bekerja di dunia ritel terasa lebih ringan karena saya tinggal bersama sahabat ketika kuliah dulu. Saya masih anak baru dan dia merupakan senior, gaji saya masih belum 100% dan dia sudah menikmati bonus. Dan karena kebaikannya, saya hidup sebagai parasit, mengandalkan teman saya selama di perantauan. Selain kawan lama, di perantauan ini saya juga bekerja bersama seorang kakak kelas yang menjadi atasan langsung saya di toko. Another person I can leached on, menang banyak.

Sepanjang Ramadhan saya harus bekerja keras bagai kuda. Beras 5 kiloan sudah seperti bola voli, lempar sana lempar sini. Tumpukan minyak goreng kartonan tidak terhitung berapa banyaknya harus segera dipajang. Belum lagi daging, ayam, ikan yang peminatnya juga minta ampun. Lelah, tapi saya bahagia. Terutama ketika di hari itu tidak ada komplain dari pelanggan. Orang berpuasa dan antrian itu tidak bersahabat, jadi biasanya adaaaa saja pelanggan yang membuat kami harus bernapas lebih panjang. Dan seberapa pun beratnya saya tidak bisa berkeluh kesah panjang-panjang, karena ini jalan yang saya pilih sendiri secara sadar. Selain itu, tim di toko sudah seperti saudara sendiri. Namun sayangnya, setelah drama yang cukup menguras tenaga, saya harus melewatkan lebaran seorang diri, karena kawan saya harus mutasi dadakan dan atasan saya tentu mendapat hak untuk cuti di hari pertama lebaran.

Saya masih ingat di malam takbiran toko masih sangat ramai. Masih banyak orang yang berbelanja partai besar dan saya harus pulang cukup larut, walau esok harinya saya masih harus bekerja sejak shift pagi. Tampaknya saya terlalu lelah malam itu. Saya baru terbangun ketika mendengar suara tetangga yang sibuk saling menyapa sepulang dari solat Id. Saya melewatkan waktu solat Id perdana saya di perantauan.

Di tahun berikutnya pun saya masih menghabiskan waktu Ramadhan di toko. Bedanya saya ditempatkan di salah satu toko teramai selama musim seasonal puasa, yang sales per harinya bisa mencapai satuan Milyar Rupiah. Saya rasa selain bekerja, waktu saya hanya habis untuk tidur. Waktu bekerja pun tidak cukup hanya 8 jam sehari. Tampilan awal shift yang rapi jali pasti berakhir acak-acakan, rasanya seperti sehabis pergi ke medan perang, terutama sehabis pulang shift malam. Kami selalu merasa ngeri bila ada mobil ekspedisi yang datang adalah truk tanpa tail gate, yang artinya kami harus bongkar manual. Tidak ada bedanya wanita atau pria, saya pun tetap harus ikut mengangkut barang. Tapi kalau barangnya sudah berupa gula sak-sakan saya mundur teratur, tahu diri lah. Pernah sepulang shift malam, saya mendapati tangan yang jadi hijau, dari telapak tangan hingga pergelangan tangan. Awalnya kaget, “Waduh kenapa pula ini? Saking kecapekannya kah?” pikir saya waktu itu. Tapi ternyata bukan, itu hanya tanda saya sudah mengangkat berpuluh-puluh atau beratus kardus sirup. Cat kardusnya luntur ke tangan saya.

Ada satu lagi tugas yang melelahkan tapi membuat senyum saya lebar tidak tertahan, menghitung sales. Pernah lihat uang 1 miliar cash? Saya bisa sombong, saya pernah, padahal saya tidak bekerja di bank. Menghitung uang itu membuat ngantuk lo, kepala kasir saya sampai hapal dan suka geregetan kalau saya lama sekali menghitungnya apalagi kalau salah-salah hitungnya. Karena itu biasanya dia menyediakan cemilan agar saya tetap bisa melek. Thats why kadang di bulan puasa sales sudah dihitung malam harinya, karena saya tidak bisa menghitung sales sambil ngemil kalau pagi, selain karena kalau pagi sudah pasti tidak terpegang saking banyaknya tugas lainnya. Lihat tumpukan uang hasil penjualan yang banyak itu menyenangkan, karena tidak di setiap toko bisa merasakan hal tersebut.

Hampir sebulan bergulat di toko ramai, menjelang lebaran saya dimutasi ke toko yang lebih ramai lagi. Dengan jarak yang lebih jauh dari kos, namun dengan pola shifting yang sama, 3 shift se hari. Pernah beberapa kali saya tertidur ketika mengendarai motor sepulang shift malam. Alhamdulillah masih selamat tanpa mengalami kejadian yang tidak diperlukan. Berada di toko baru ketika musim ramai tentunya bukan kondisi yang ideal. Saya dipaksa beradaptasi dengan waktu yang cukup cepat tanpa ada kesempatan menghapal nama dan karakteristik masing-masing karyawan. Selain tokonya lebih ramai, kondisi gudang di sini juga unik. Gudang tambahan kami berada di 2 lantai atas yang lokasinya cukup jauh. Saya rasa berat badan saya waktu itu turun cukup banyak. Dan lagi-lagi saya melewatkan waktu solat Id di lebaran tahun itu. Malam takbiran terlelah yang pernah saya rasakan. Saya bekerja shift pagi tapi pulang hampir bersamaan dengan shift siang. Bedanya, saya mendapatkan jatah cuti 3 hari mulai hari kedua lebaran. Jadi sore itu, selepas shift pagi dan menyerahkan tanggung jawab jaga toko ke salah seorang calon assistant manager, saya terbang ke kampung halaman.

Hari ini, di salah satu siang di bulan Ramadhan 2020, saya sedang mempersiapkan lebaran yang harus saya lewatkan sendirian. Rasanya berat, tapi ketika ingin mengeluh, “Hey, kamu pernah mengalami Ramadhan dan lebaran yang lebih melelahkan dari ini!”. Dan saya tidak sendiri. Yang mengalami hal yang sama dengan saya saat ini ada banyaaaakkkkk dan lebih banyak lagi yang kondisinya tidak senyaman saya. Setoples kue kiriman sahabat dan kiriman menu berbuka sudah lebih dari cukup. Baju baru pun tidak perlu secara khusus disiapkan, karena kostum terbaik ketika berada di kamar kos adalah daster. Jaringan internet yang masih bisa diandalkan pun sudah tersedia, jadi tidak ada halangan untuk bertatap muka dengan orang tua dan saudara yang seluruhnya berpencar-pencar. Jadi yang harus saya siapkan untuk lebaran tahun ini adalah rasa syukur sebanyak-banyaknya karena kami masih dalam kondisi sehat dan baik-baik saja di tengah kondisi yang tidak baik ini.

Jakarta, Mei 2020

Kamis, 12 Februari 2015

Oleh-oleh buku "Sabtu Bersama Bapak"

Buku terbaru yang selesai saya baca. Buku pertama dalam tahun 2015 ini, selain buku-buku tentang manajemen operasi yang bikin kepala berdenyut. Buku yang ringan, isi maupun harganya. Tapi, nilainya tidak seringan massa uang yang saya keluarkan ataupun air mata yang saya teteskan.


Setelah berburu buku ini di toko buku diskon, saya buru-buru menghabiskan isi cerita dalam beberapa jam saja. Skripsi saya, minggir sejenak. Ekspekstasi pertama buku ini adalah=>bikin nangis mengharu biru. Kenyataannya=>terharu di beberapa bagian, garing di bagian yang lain, ada juga bagian di mana saya geregetan. Well, tapi tetap saja buku ini menarik bagi saya, yang terbiasa membaca cerita dari sisi feminis, sedangkan buku ini ditulis oleh seorang pria dan menceritakan sisi pria yang jarang saya lihat.


Bagian yang bikin saya geregetan adalah: cerita yang agak tidak pas dengan waktu. Di awal cerita, tertanggal Januari 1993, Cakra berusia lima tahun. Lalu, di tengah cerita, tertanggal awal September 2016, pria ini berusia 30 tahun. Mungkin saya yang agak bodoh matematika, tapi di September 1993, katakan setelah Cakra ulang tahun, maka dia akan berusia 6 tahun, lalu 2016-1993=23. Nah setelah itu Saudara-saudara, 23+6(usia Cakra tahun 1993)=29 (usia Cakra tahun 2016). Lalu, ke mana sisa satu tahun umur Cakra? Apakah dia akselerasi? Atau penuaan dini?


Lalu, ketika tokoh Bapak bercerita tentang ijazah beliau. Bapak di tahun 1992 bercerita tentang ijazah yang didapatnya setahun sebelum menikahi ibu Itje (keterangan ini didapat dari beberapa bagian cerita, intinya sih gitu). Bapak mendapatkan IPK di bawah 3 dan kesulitan mencari kerja. Padahal ya, Bapak menikah tahun 1982, jadi kuliah ya paling tidak lulusnya 1981. Dari cerita Bapak saya yang waktu itu belum kuliah, kerja dengan bekal ijazah SMA saja sudah bagus, bisa jadi PNS. Dan dari orang tua teman-teman yang lain, tampaknya hal yang serupa juga terjadi. Yah, mungkin ini hanya jeritan manusia yang belum lulus di tahun ketujuh di bangku universitas.


Terakhir nih, ketika Bapak bercerita tentang Steve Jobs yang menciptakan Ipod. Sebentar, saya akan browsing dulu. .


....


Baik, sudah selesai. iPod, Saudara-saudara, dirilis pertama kali tahun 2001. Bagaimana bisa sosok Bapak menerawang akan terciptanya iPod di dunia? Bahkan nama Steve Jobs di tahun-tahun itu tampaknya belum dikenal di Indonesia (maafkan kalau saya sotoy). Nama orang hebat yang bekerja keras yang sering saya dengar di usia belia saya (saya lahir tahun 1989), adalah Pak Harto, anak petani yang bisa jadi presiden. Ada juga nama Pak Habibi, cita-cita anak kecil tahun 90an mungkin banyak yang ingin menjadi insinyur seperti beliau.


Oke, selesai saya nyinyirnya. Di samping hal-hal kecil yang membuat saya agak gerah tadi, banyak bagian yang membuat saya terharu. Mungkin saya terharu karena saya bisa relate cerita ini ke bapak saya. Sosok pria yang tidak sepenuhnya saya kenal. Yang ada dalam ingatan saya, hanya ketika bapak bersikap keras atas pilihan saya yang tidak sesuai dengan beliau. Jam kerja beliau yang padat ketika saya beranjak dewasa membuat saya lupa dengan sosok manis beliau ketika saya masih kecil, ketika bapak masih belum sesibuk sekarang. Saya menemukan beberapa foto lama dan saya lihat sosok bapak yang berbeda. Ah, memang, cerita tentang orang tua akan membuat kita sedikit tertegun, mengingat mereka akan mengingatkan betapa belum berbaktinya saya.


Hal yang membuat saya senang lainnya adalah nama sosok wanita di dalamnya, namanya mirip nama saya. Eh, mirip beberapa bagian nama saya. Dua per tiga nama wanita itu ada di dalam nama saya. Retna dan Ayu. Wahahahahahaha.... Dua kata terakhir nama saya adalah Retnaning Ayu, sedangkan mbaknya di dalam cerita adalah Ayu Retnaningtyas. Jadi, bolehlah saya geer nama saya banyak tercantum dalam cerita. Saya juga baru tahu loh, Retna itu artinya permata. Bapak saya saja ndak tau artinya. Yang bapak tau cuma kata “ning” yang artinya panggilan wanita di jawa timur dan “ayu” yang artinya juga dipahami oleh umat manusia di Indonesia.


Yap, begitu saja cerita saya yang panjang ini. Buku ini saya sarankan untuk semua pria dan wanita yang sudah cukup umur untuk dibaca. Walau pesan moral buku ini sangat berbobot, saya tidak menyarankan anak di bawah 17 tahun membaca cerita di novel ini. Ehm...ada beberapa bagian yang terlalu vulgar. Terutama yang sudah akan menikah, baca buku ini ya!




Kamis, 15 Januari 2015

Masalah Dunia yang Sulit untuk Dipecahkan

Salah satu masalah dunia yang sampai sekarang menghantui makhluk di muka bumi ini adalah: “akan makan apa?”. Apalagi sebagai anak kos, permasalahan ini datang tidak hanya sekali dalam sehari. Makan bersama teman, diskusi dengan tema “akan makan apa?” akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Pun ketika makan sendirian. Kadang seringkali berakhir dengan melewatkan jam makan hanya untuk berpikir “akan makan apa?”.


Ini bukan hanya masalah untuk manusia yang hidup di kos-kosan, tapi untuk semua umat di dunia. Tanya saja pada para ibu rumah tangga. Tak jarang sampai ada rapat keluarga untuk menentukan menu harian. Lebih susah lagi kalau anggota keluarga yang dimintai pendapat menjawab dengan jawaban “apa aja” atau “terserah”. Kemudian kalau sudah dimasakkan masakan yang “terserah” si ibu, makanan tidak tersentuh.


Masalah ini benar-benar masalah seluruh umat, baik kaum miskin atau kaya. Untuk kaum miskin, “akan makan apa?” disebabkan tidak ada daya yang cukup untuk menghidangkan makanan, yang murah sekalipun. Untuk yang kaya, “akan makan apa” juga seringkali jadi masalah. Mau makan steak, kemarin sudah, mau makan caviar, dua hari lalu sudah, mau makan uang, rasanya nggak enak.


Masalah ini akan menjadi besar bagi orang yang peduli terhadap kesehatan, lingkungan, dan aspek lainnya. Barang ini tidak ada label halalnya, makanan itu tinggi kandungan gulanya, sedangkan yang ini produk dari perusahaan yang tidak peduli lingkungan. Kata teman saya, kalau tiap mau beli produk makanan harus baca labelnya, kita nggak akan beli apa-apa. Yah, begitulah manusia. Karena dianugerahi otak untuk berpikir, semua hal dipikirkan, termasuk makanan, salah satu bahan pokok untuk hidup.

Rabu, 12 November 2014

Oleh-oleh dari Nonton Masha and The Bear


Tahu film kartun Masha and The Bear? Yang tayang di salah satu televisi swasta di Indonesia dua kali sehari. Kalau sedang berada di rumah, ini tontonan wajib karena keponakan saya yang berusia setahun sangat suka film ini. Ceritanya lucu, tapi kadang menyebalkan. Si tokoh perempuan cilik ini tingkahnya bikin kepala puyeng.

Dari sekian banyak episode yang terus menerus diulang, ada satu episode yang menarik perhatian saya, Jam Season. Kurang lebih itu judulnya, isinya tentang Masha dan Bear yang membuat selai. Nah, jenis-jenis selai yang dibuat Masha ini macam-macam, lebih tepatnya aneh-aneh.



Masha sedang memasak selai sambil bernyanyi



Macam-macam selai yang dibuat Masha


Selai buah cheri sih biasa, tomat pun tidak aneh kalau dibuat sebagai selai, walau nggak utuh-utuh begitu bentuknya. Selai timun pun juga ada di dunia kuliner barat. Kalau di Indonesia timun paling hanya menjadi acar. Selai wortel? Yeiks, rasanya tidak bisa dibayangkan, tapi ada lo.. Bahkan selai jamur pernah ada yang membuatnya. Dari hasil pencarian saya di alat pencari Google, ada berbagai jenis jamur yang dijadikan selai, seperti shitake dan beberapa jenis jamur liar. Karena selai adalah cara untuk mengawetkan buah atau sayur dengan gula, jadi saya rasa hampir semua jenis buah dan sayur bisa dibuat selai. Karena tidak semua buah dan sayur mengandung pectin yang cukup untuk membentuk struktur selai, jadi bisa ditambah pectin.


Nah, itu jenis-jenis selai yang cukup aneh bagi saya dan sulit untuk dibayangka. Ada satu lagi jenis selai yang dibuat oleh Masha dan menurut saya itu sangat fiktif. Itu adalah selai buah pinus!! Bagaimana bisa kita makan buah pinus? Paling bagian dari buah pinus yang bisa dimakan hanya bijinya, bukan?



Selai buah pinus buatan Masha


Bukan Naning namanya kalau tidak iseng mencari di Google. Hasilnya, ternyata ada. Di daerah Ukraina ada yang membuat selai buah pinus. Bukan yang kering seperti di gambar sih, tapi buah yang masih muda, yang masih berwarna hijau. Selai ini dipercaya untuk mengobati diabetes, tapi saya masih sangsi, kan kandungan gulanya banyak, mana bisa untuk diabetes?

Ya begitulah pengalaman yang saya dapat dari menonton Masha ans the Bear. Walau hanya tontonan untuk anak kecil, bagi saya tontonan ini memberi ilmu baru di khazanah kuliner di otak saya. Mungkin lain kali saya bisa coba untuk membuat beberapa selai di atas. Hahaha...

Kamis, 18 September 2014

Oleh-oleh dari Pasar Beringharjo : Radio Bekas


Terbiasa mendengarkan suara radio dari bangun tidur sampai tidur lagi, ketiadaan radio di kamar agak mengganggu. Sebelumnya, di kamar kos ada dua buah radio, tapi sekarang satu radio saya kembalikan ke rumah, satu lagi saya kembalikan ke pemilik aslinya, kakak saya. Memang bisa sih, mendengarkan radio dari perangkat telepon genggam, sayangnya kurang nyaman. Agaknya membeli radio sendiri adalah jalan keluar yang baik.

Harga radio baru dengan merk P***s***c masih jauh dari jumlah uang yang saya punya. Kisaran harga radio baru di pasaran saat ini masih berada di level Rp. 180.000,00 sampai Rp. 200.000,00. Iseng yang diniati, saya pergi ke pasar Beringharjo. Di lantai 3 sayap utara, ada beberapa kios elektronik yang menyediakan barang bekas dan baru.

Wahaaa... Bahagia sekali di sini, ada banyak radio bekas yang saya incar, dengan berbagai model. Saya hanya mampir di satu kios saja, soalnya ibu penjualnya sudah ramah sekali, bahkan saya diperbolehkan mengobrak-abrik persediaan radio bekas di sana. Membeli barang bekas membutuhkan kejelian yang lebih daripada ketika membeli barang baru. Model yang kita inginkan belum tentu memiliki kondisi yang masih baik. Harus coba sana, coba sini, sampai yang paling oke ketemu. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli radio 2 band yang seperti di gambar. Suara yang dihasilkan masih sangat bagus, walaupun sudah banyak goresan dan agak kotor. Ibu penjualnya berbaik hati menukarkan penutup rumah baterai dengan yang lebih bagus. Itu bonus karena saya nggak bisa menawar, jadi saya tetap harus membayar Rp. 85.000,00.

Radio masih memiliki penggemarnya. Salah satunya, saya.

Jumat, 02 Mei 2014

Oleh-oleh dari Asia Tengah: Trilogi karya Agustinus Wibowo


Sebagai pembaca pemula, saya pertama kali mendengar nama Agustinus Wibowo sekitar bulan Februari tahun lalu. Waktu itu, salah satu kawan kos memesan buku beliau yang akan terbit. Kawan saya salah satu orang yang beruntung untuk mendapatkan bukunya melalui pre-order. Sebelum ini saya adalah penikmat buku petualang anak-anak karangan Enid Blyton dan juga komik. Saya bukan termasuk orang yang mengikuti buku-buku yang baru terbit. Kembali ke buku Agustinus Wibowo. Buku pertama yang saya tahu adalah TITIK NOL. Impresi awal saya adalah saya menyukai sampul bukunya. Pemandangan langit biru, pemandangan yang sangat saya sukai.

Saya sangat menyukai buku ketiga dari Agustinus ini. Ceritanya tidak melulu tentang perjalanan layaknya buku travelling lainnya. Ini bukan buku perjalanan biasa, ini buku perjalanan hidupnya. Agustinus tidak saja menceritakan apa yang dia lihat, tapi juga apa yang dia rasakan. Cerita perjalanan keliling dunianya silih berganti dengan cerita mengenai tanah kelahirannya dan juga ibunya, keluarganya. Bagi saya, ini buku yang menggerakkan hati pembacanya. Tidak hanya sekali saya menitikkan air mata.

Penasaran, saya tertarik untuk membaca buku Agustinus yang lainnya. Sebagai mahasiswa pelit, saya berusaha mencari pinjaman. Masih dari kawan kos saya. Buku kedua yang saya baca adalah GARIS BATAS. Saya memilih buku ini juga dengan alasan sampul buku yang lebih menarik dari buku pertamanya, SELIMUT DEBU. Dari buku garis batas ini, menurut saya Agustinus benar-benar berhasil mengisahkan si garis yang membatasi. Betapa alam dan manusia bersatu padu menciptakan garis pembatas yang lebih sering tak kasat mata namun sangat terasa. Ketika kita melompati si garis pembatas, kita akan merasakan dunia yang berbeda. Penggambaran mengenai negara-negara “Stan” yang selama ini tidak pernah saya ketahui lebih dari sekedar nama ibu kotanya, sungguh di menyenangkan. Perjalanan yang menurut saya tidak mudah, walau mungkin lebih ringan dibandingkan perjalanannya di buku titik nol yang saya baca sebelumnya.

Terakhir, buku yang paling saya enggan untuk membacanya. Buku pertama Agustinus yang bercerita tentang perjalannya di Afghanistan. Judul dan sampul bukunya bagi saya sangat kelam, tidak terlalu menarik untuk saya baca. Sampai akhirnya ada diskon lumayan besar di toko buku terbesar di Indonesia. Waktu itu hanya ada satu buku Selimut Debu yang tersisa. Tanpa pikir panjang, saya ambil saja. Proses membaca buku ini juga lebih lama dibanding dua buku lainnya. Kisah perjalanan yang lebih kelam, lebih banyak darah berceceran, lebih banyak derita. Bukan saja derita penulis selama perjalanan, tapi juga penderitaan masyarakat yang ditemuinya. Entah manusia yang berubah untuk dapat bertahan hidup ataukah alam yang berubah menjadi kejam karena manusia tidak berperilaku baik. Mungkin saja keduanya terjadi saling saut-menyaut. Agutinus bercerita mengenai negara yang diselimuti perang, Afghanistan, tapi pikiran saya terbang mengelilingi tanah air saya, membayangkan masih banyak orang yang belum bisa kenyang ataupun merasakan kehangatan. Saya patut bersyukur masih bisa merasakan kekenyangan karena terlalu banyak makan, bahkan hingga obesitas, merasakan hangatnya selimut, merasakan udara yang sejuk, dan tentu dapat membaca banyak buku tanpa banyak kesulitan. Rasa syukur yang diikuti rasa bersalah karena belum bisa membagi kebahagiaan saya pada orang lain.

Senin, 24 Februari 2014

Oleh-oleh dari POSTCROSSING


Tada! Saya punya kegemaran satu lagi. Sekarang adalah saatnya berkorespondensi...! Bukan dengan surat, tapi dengan kartu pos. Sudah lama saya tidak berhubungan dengan hal-hal berbau pos. Duluuuu sekali saya pernah mengumpulkan beberapa SHP (Sampul Hati Pertama) dan kakak saya pernah mengumpulkan perangko. Dan itu sudah lamaaaaa sekali tidak kami hiraukan. Hingga akhirnya saya menemukan situs postcrossing.

Postcrossing ini situs yang unik menurut saya. Alih-alih menghubungkan orang-orang di dunia maya, situs ini menghubungkan orang yang tidak saling kenal secara nyata. Memang tidak mempertemukan orang secara fisik, tapi cukuplah kartu pos kita terima, itu termasuk hal yang nyata menurut saya. Ini cukup unik untuk saya. Seseorang di antah berantah mengirim kartu pos untuk orang yang juga tidak dia kenal. Kalau pengirimnya bukan orang yang memiliki niat, tidak mungkin kan dia sampai bersusah payah mengirim kartu pos untuk orang yang tidak dikenal.

Mengirim kartu pos saat ini bukanlah hal yang mudah. Saya yang saat ini lebih sering berada di Yogyakarta mungkin masih relatif mudah, mudah untuk mendapatkan kartu pos, perangko, juga kantor pos untuk mengirimkannya. Sayangnya, di beberapa daerah, termasuk di Magelang, kota asal saya, mengirim barang pos menggunakan perangko adalah hal yang lumayan rumit. Kantor pos memang masih berdiri gagah, tapi untuk mendapatkan perangko di kantor pos bukanlah hal yang mudah. Pernah suatu kali karena tidak menemukan gambar perangko yang menarik di kantor pos Yogyakarta, saya iseng ke kantor pos Magelang waktu pulang kampung. Di sana saya hanya mendapatkan dua perangko bernilai 5000 dan salah satunya sudah terobek sedikit. Itu bisa saya dapatkan setelah petugasnya mencar-cari di bagian dalam kantor. Lebih parahnya, tarif yang ditetapkan di kantor pos Magelang berbeda dengan tarif dari kantor pos besar Yogyakarta. Nilai perangko yang harus saya tempelkan di kartu pos saya sekitar 10.000 rupiah atau mau amannya bisa sampai 15.000. Jangankan di Magelang, sewaktu saya ke kantor pos cabang UGM, saya juga mendapatkan kesulitan yang sama seperti di kantor pos Magelang. Untuk kantor pos besar Yogyakarta tarif pengirimannya sebagai berikut:
-Asia 5.000
-Eropa 7.500
-Amerika 8.000

Untuk beberapa orang, mungkin biaya yang harus dikeluarkan untuk mengirim kartu pos terlalu mahal. Di zaman globalisasi saat ini akan lebih mudah dan lebih murah untuk bertemu secara maya. Untuk saya sendiri, mendapatkan kiriman yang dapat saya rasakan dengan panca indera tentu lebih menyenangkan. Mengirimkan kartu pos juga memiliki seni tersendiri. Menentukan kartu pos yang akan kita kirim, apakah akan membeli di toko atau membuat sendiri, memilih perangko yang menarik, dan juga menentukan waktu yang tepat karena sebagai mahasiswa yang tidak memiliki sumber keuangan yang mandiri, saya harus menyesuaikan dengan pengeluaran saya yang lain. Hobi mengirim kartu pos memang bukan hobi yang murah, tapi untuk saya, ini membuahkan kepuasan tersendiri ketika mengetahui orang yang menerima menyukai kartu pos kiriman kita, dan tentu ketika kita menerima kartu pos yang unik dari berbagai negara. Saya cinta kartu pos!

Oleh-oleh dari Imel

Siapakah Imel? Imel adalah salah satu teman kos saya saat ini. Apa oleh-oleh dari Imel? Dari mana dia? Ehm...kalau oleh-oleh barang, biasanya dia membawa makanan. Makanan yang baru saja dia berikan pada saya adalah pia mangkok dari Malang. Bukan Imel yang pulang dari Malang, dia hanya mendapat kiriman dari temannya. Dan kau tahu apa rasa pia itu? Itu adalah pia isi TENGKWEE...! Apa itu tengkwee? Enakkah? Saya juga tidak tahu pasti apa tengkwee itu. Kalau menurut informasi yang saya dapat dari dunia maya, tengkwee adalah manisan dari buah bligo. Enak dong, manisan. Iya, kalau rasanya manis, tapi yang ini rasanya seperti abon dan awalnya saya sangka itu adalah pia rasa abon sampai saya merasakan ada sesuatu seperti manisan pala di dalamnya. Oke, singkat kata, tengkwee menurut saya memiliki rasa yang unik.  
  
Oke, cukup tentang pia rasa tengkweenya. Bukan itu yang ingin saya ceritakan. Lalu apa? Tentang oleh-oleh kata-kata dari Imel yang membuat saya sadar. Aaah...mulai berat ini bahasanya. Memang, kan saya suka berfilosofi. Sudahlah, cepat ceritakan! Jadi, Imel ini adalah salah satu korban bullying saya dulu. Dia berasal dari Banyuwangi dan baru saja menyelesaikan studinya di Malang. Karena dia lulusan fakultas geografi, isenglah saya menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan tentang peta dunia. Dari situ, Imel mulai saya permalukan karena dia gagal menjawab beberapa pertanyaan nama ibu kota negara. Ditambah lagi dengan sifat polosnya dulu, semakin dia bingung, semakin bahagia saya. Sayangnya, sekarang kondisi berbalik. Setelah saya puas mem-bully Imel, sekarang giliran Imel. Imel gemar sekali mencari kelemahan saya. Dia bisa sangaaaaat bahagia ketika tahu saya tidak mengetahui sesuatu, walau sekedar ketidaktahuan saya tentang artis ibu kota. 
  
So what? Ya nggak apa-apa. Saya cuma mau cerita itu saja. Sikap Imel terhadap saya kan juga buah dari sikap saya terhadap dia. Berarti selama ini saya terlalu sombong, suka merendahkan orang lain. Saya baru bisa merasakan itu ketika saya juga lebih rendah dari orang lain. Itu membuat saya sadar. Jadi, kamu mau merubah sikapmu? Ya..mungkin, tergantung situasi. Hehehehehe.... He? Ah, tidak...tidak.... Saya bercanda. Tentu saya akan merubah sikap saya sedikit demi sedikit. Saya ingin menjadi orang yang lebih humble dan tidak menghakimi orang lain. Menjadi bermanfaat untuk orang lain itu lebih baik, bukan? 
Sekian

Minggu, 16 Juni 2013

Oleh-oleh Cerita Masa Kecil : Dongeng Sebelum Tidur

Makin hari, tampaknya cerita saya di blog ini semakin absurd saja. Dan malam ini saya ingin bercerita tentang kenangan masa kecil saya, Dongeng sebelum tidur. Bermula dari observasi di youtube tentang storytelling sebagai bahan diskusi saya dengan salah satu partner in crime debate di kosan. Melihat cerita-cerita yang dibawakan oleh para pendongeng ini mengingatkan saya akan pendongeng tehebat dalam hidup saya: IBU.

Ibu bagi orang lain mungkin bukan seorang dengan kemampuan bercerita maupun berkhayal yang baik, tapi bagi saya, beliau adalah yang terhebat. Kesenangan saya akan membaca dan bercerita diturunkan dari beliau saya rasa. Duluuuuu...waktu saya masih ngedot (minum pake dot), sebelum kami (saya dan kakak) pasti mendengarkan dongeng dari ibu. Cerita favorit kami (karena saking seringnya diulang-ulang) adalah cerita Kancil Nyolong Timun. Variasi cerita lainnya adalah si Kancil yang Cerdas dan banyak versi si Kancil lainnya yang saya sudah lupa. Pokoknya tokoh si Kancil ini adalah tokoh yang paling banyak muncul. Bagian dari cerita si Kancil yang paling saya ingat sampai sekarang, ketika si Kancil selamat dari ancaman Buaya dan bisa menyeberang ke seberang dengan aman. Ide dari cerita tersebut benar-benar menarik bagi saya, ide yang sangat brilian. Si Kancil yang hendak menyeberang sungai yang amat lebar untuk mencari makan di kebun timun seberang sungai merasa kesulitan karena tidak adanya jembatan. Tiba-tiba datanglah seekor buaya kelaparan yang menghampiri si Kancil. Dengan mulutnya yang besar, si Buaya sudah bersiap menerkam si Kancil, tapi tiba-tiba si Kancil berseru "Berhenti!" dan buaya itupun menganga kebingungan. Si Kancil menawarkan kesepakatan dengan buaya. Kancil menjanjikan buaya untuk membawakan banyak kancil sebagai santapan buaya dan teman-temannya. Melihat banyak kawannya yang juga kelaparan, buaya akhirnya setuju. Si Kancil meminta buaya-buaya itu berjajar agar ia mudah dalam menghitung. 1..2...3.....si Kancil mulai melompat dan menghitung buaya-buaya yang berbaris di sungai. Ketika si Kancil selesai berhitung, ia sudah sampai di seberang sungai. Lalu ia pun berlari meninggalkan kawanan buaya yang hanya bisa terbengong karena ditipu kancil. 

Cara kancil menipu buaya inilah yang saya anggap luar biasa (waktu itu). Bagaimana Ibu bisa menemukan ide brilian itu? Ibu menjadi role model "orang cerdas" bagi saya sejak itu. Hahahaha... Saking sukanya saya dengan cerita itu, malam-malam berikutnya Ibu harus memodifikasi cerita. Saya merasa kasihan sama si Kancil, berapa kali sudah ia menghitung buaya? Dan buaya masih saja bodoh mau ditipu. Hehehe....
Berbeda dengan ibu, cerita bapak tidak terlalu menarik. Bapak lebih suka bercerita kisah-kisah jawa dibandingkan dongeng anak-anak. Dan sebagai gantinya, bapak lebih sering membacakan buku cerita bila ibu sedang tidak di rumah ketika kami akan tidur. Dan kebiasaan ini selesai ketika ibu bersekolah di kota nun jauh di mata dan bapak tidak sabaran ketika membacakan buku cerita. Lagipula kami sudah bisa membaca sendiri, jadi daripada nyusahin bapak, kami baca saja sendiri buku-buku dongeng yang dibawakan ibu setiap ibu pulang. 

Dongeng sebelum tidur ternyata sangat membekas di hati saya. Ingin rasanya saya bisa menjadi pendongeng ulung, yang bisa berbagi khayalan dengan anak-anak. Dan observasi saya malam ini sedikit-banyak menggugah hati saya untuk segera  mencari probandus anak-anak untuk mendengarkan cerita-cerita saya yang sedikit konyol tapi bermakna dalam (ecie..cie...). Siapa anak-anak itu? Yah, yang dekat-dekat dulu, anak-anak kosan. Cerita tentang apa? Tentunya si Kancil yang Pintar!

Minggu, 19 Mei 2013

Oleh-Oleh dari Sidang Tilang

Untuk pertama kalinya!! Untuk pertama kalinya saya harus menjalankan sidang di pengadilan. Dan kejahatan  yang saya lakukan adalah tindakan yang nggak penting banget,melanggar lampu kuning (kalau kata polisinya sih melanggar lampu merah).Lepas dari lampu merah, karena ngerasa nggak salah, masih terus jalan lah saya.  Eh...tiba-tiba pak polisi datang menghampiri...kutancap gas dengan maksud melarikan diri.... ! (nyanyi ala naif) Sial tak dapat ditolak, melayanglah surat tilang itu ke hadapanku. Walau kesal karena sudah ditilang, tapi saya angkat topi deh sama pak polisinya. Walau dirayu sama dua cewek cantik, tetep aja kekeuh buat nilang, tidak ada acara damai di jalan. Ya..ya...kalau sudah begini, saya relakan saja STNK saya dibawa pak polisi.

Sekitar 2 minggu setelah kejadian penilangan di jalan raya, akhirnya saya harus datang ke pengadilan. Seumur-umur tinggal di Magelang, baru kali ini saya datang ke pengadilan negeri. Berangkat dari Jogja sekitar pukul 8.15, saya sampai di Magelang pukul 9.22. Saya pikir masih belum terlalu ramai lah, telat 20 menit dari jam yang tertera di surat tilang. Ternyataaaa....saya lupa Magelang itu bukan kampus, yang isinya mahasiswa telatan semua. Pengadilan sudah kayak pasar aja, rameeeee... Dari sekian banyak orang, saya rasa, saya termasuk bagian sedikit terdakwa yang berpakaian rapi. Kebanyakan cuma sandalan, bahkan banyak yang memakai celana pendek. Haduuuuh....

Cara sidangnya juga sederhana. Datang ke pengadilan, langsung menuju loket untuk melaporkan kedatangan, jangan lupa serahkan surat tilang ke penjaga loket. Setelah itu, kita akan mendapat nomor antri. Hari itu saya mendapat nomor antrian 125. Waktu ngintip ke ruang sidang, nomor masih berkisar 50-60an. Masih lamaaaa... Karena ruang sidang sudah penuh, bahkan sampai di pintu2nya, saya memilih menunggu di lobby pengadilan. Di sana saya tercengang, ada pasangan anak SMA (yang cewek pakai seragam) baru rangkulan. Iki opo jal??? Di ruang umum mereka pede banget! Lima belas menit saya bertahan di lobby, lama-lama risih juga. Saya memutuskan menunggu di ruang sidang.

Dari hasil pengamatan saya, rata-rata dendan yang diberikan hakim adalah Rp 30.000,00 per kesalahan. Ada juga yang Rp 50.000,00 terutama yang diwakilkan oleh orang lain. Hakim sempat juga mengancam salah seorang terdakwa karena orang itu mewakilkan, tidak tahu-menahu apa kesalahan orang yang diwakilinya, dan asal jawab waktu ditanyai oleh hakim. Lebih parahnya, orang itu tidak membawa uang yang cukup untuk membayar denda. Dan berkatalah sang hakim,"Anda sebagai wakil, juga harus bersedia menanggung hukuman bagi yang Anda wakilkan. Bila Anda tidak mampu membayar, maka ada pilihan hukuman menginap di hotel prodeo dan itu Anda yang dikurung." wohooo....kasihan sekali orang itu. Jadi, bagi teman-teman yang hendak mewakili seseorang di sidang tilang, pastikan apa saja kesalahan yang dilakukan, dan perkiraan dendanya.

Sidang tilang ini semoga menjadi yang pertama dan terakhir kalinya. Sangat tidak kerennya disidang karena kasus pelanggaran lalu lintas. Apalagi bagi orang-orang yang mengaku pandai, tingkah laku di jalan raya adalah cerminan sifat kita. Akhir kata, hati-hati di jalaaaan

Sabtu, 13 April 2013

Oleh-oleh Obrolan tentang Asmara Wanita

Huahahaha..tampaknya bulan ini hari-hari saya banyak diisi obrolan mengenai asmara. Bukan kisah-kasih asmara saya tentunya, kan saya belum bertemu dengan kekasih hati. Cuma obrolan tentang kisah asmara teman-teman di sekitar saya.
Tak ada asap bila tidak ada api. Kenapa kami tiba-tiba sering mengobrol tentang asmara? Selain karena kami sekarang sudah berusia optimum, juga karena satu buku karya Felix Y Siauw.
Yap, buku Udah Putusin Aja! Pertama kali saya baca, hm....kok agak ekstrim ya cerita yang bagian awalnya? Masalah wanita harus menjaga diri, jangan sampai mau menyerahkan seluruh dirinya kepada pria yang belum halal baginya, adalah hal yang sering saya dengar. Berita seorang wanita hamil di luar nikah juga sering saya baca di koran atau saya lihat di tivi. Tapi, saya tidak pernah membayangkan hal itu terjadi di antara teman-teman saya. Bagaimana bisa saya bayangkan?? Membayangkan mereka melakukan yang lebih dari berpegangan tangan pun saya tak sanggup.

Cara berpikir saya masih kuat menancap sampai minggu lalu. Sampai ketika seorang teman bercerita tentang first kiss-nya. Hah, first kiss??? Sampai saya berusia 24 tahun, tahun ini, saya belum pernah menemukan seorang teman bercerita tentang first kiss. Oke, saya anggap ini adalah kasus khusus. Hanya 1 orang dari sekian banyak orang. Dia berkisah tentang asmaranya, sesuatu yang di luar bayangan saya. Belum sampai hubungan badan juga sih. Tapi, tetap saja....bagi saya....ehm...(speechless).

Di hari yang sama, di minggu yang sama, topik ini muncul kembali. Dan hasilnya sudah cukup membuat saya tersedak. Teman yang saya anggap sebagai kasus khusus bukanlah kasus khusus. Saya lah kasus khusus yang sebenarnya. Dari beberapa orang yang saya tembak dengan pertanyaan apakah mereka pernah berhubungan dengan pria, lebih dari berpegangan tangan, jawabannya hampir semuanya SUDAH. Haaaaah...hati saya mencelos. Teman-teman yang saya anggap adalah wanita polos pun sudah melakukan first kiss, second kiss, third kiss, atau bahkan 100th kiss mungkin.

Saya memang bukan manusia yang bebas dari dosa. Saya sodorkan buku itu kepada mereka, mungkin saja mereka bisa terpikir hati dan pikirannya. Hasilnya, hanya satu orang yang bersedia membaca (setengah) buku itu, sudah cukuplah untuk membuat saya lega. Kawan, mungkin di usia muda kita banyak hal yang membuat kita penasaran. Tapi saya rasa, tidak ada muda atau tua untuk bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Jomblo bagi saya bukan hal yang memalukan. Saya sebut ini sebagai investasi, agar harga saya nantinya lebih tinggi, dan akan dijaga agar tidak rusak.

Jumat, 05 April 2013

Oleh-oleh nulis blog buat kompetisi ke Jailolo

Oke, selesai nulis, lalu posting dan terakhir, submit. Dikirimin gambar berikut:

Semoga saya terpilih yaa... kalaupun gak kepilih, ya gapapa.. Paling cuma ngenes karena mupeng yang kebangetan. Hehehe... Moga-moga gak sirik aja sama yang menang. Cheers!!

Jailolo, I'm comiiiiiing...


"Tulisan ini diikutkan dalam "Jailolo, I'm Coming!" Blog Contest yang diselenggarakan oleh Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo"


Jailolo, mungkin ada yang belum pernah denger nama itu. Apakah Jailolo itu? Makanan? Tempat Belanja? Buku? Apaan??? 
Gosh, tahun 2013 masih nggak kenal sama tempat yang namanya Jailolo?? Beneran? Sumpeh lo? Wah, sama dong sama saya. Saya juga belum kenal sama yang namanya Jailolo. Hehehe...
Pertama kali denger kata Jailolo adalah waktu salah satu sahabat saya yang maniak travelling cerita tentang rencananya pergi ke sana waktu ada festival kebudayaan di Jailolo tahun 2012 silam. Menurut kawan saya itu, Jailolo terletak di daerah Maluku Utara, deketan sama Ternate dan Tidore. Waktu itu sih, saya nggak penasaran banget. Lebih tepatnya menahan hati untuk tidak penasaran. Sebagai mahasiswa pas-pasan, tabungan untuk jalan-jalan yang membutuhkan transportasi pesawat sampai sekarang masih jauh dari cukup. 
Oke, kembali ke letak Jailolo. Saya buka atlas kesayangan yang sudah kumel, lecek bin dekil karena kebanyakan dibuka dan dilipet sejak SD dulu, buka bagian provinsi Maluku. Saya pindai kata demi kata, nama demi nama yang ada di peta. Jailolo... Yap, tidak KETEMU! Huft...kurang mutakhir ni peta. Yang ada malah nama Jaloho, sama dengan Jailolo atau tidak, saya tidak tahu. Baiklah, mari kita beranjak ke teknologi web yang mutakhir. Masukkan kata kunci “Jailolo”. Deretan hasil pencarian Mr. Google muncul. Wuih, yang muncul di halaman pertama kebanyakan berasal dari situs yang berbahasa inggris. Berarti Jailolo ini adalah destinasi pariwisata yang mahsyur di kalangan wisatawan asing. Malu saya sebagai anak bangsa Indonesia, yang baru ngeh ada daerah yang indah (katanya, kan saya belum ke sana juga) di usia yang sudah berkepala 2 (tapi saya masih di awal umur 20an kok).
Jadi, Jailolo ini adalah ibukota dari Kabupaten Halmahera Barat yang terletak di suatu teluk di bagian barat Halmahera. Di sana juga terletak gunung Jailolo yang merupakan pusat dari gugusan gunung yang terletak di bagian barat pulau Halmahera. Dilihat dari foto-foto dari para profesional, Jailolo ini keren sekaliiiii... Laut biru, kapal kayu yang besar, penari tradisional, makanan, pohon kelapa, daaaaaan gunung. Hah, gunung yang berbatasan dengan laut! Saya baru liat kali ini, lewat foto saja sayangnya. Dan menurut blog festival teluk Jailolo, kita bisa diving atau kegiatan di laut deh, dan hebatnya kita juga bisa milih untuk kegiatan gunung kayak mountain biking gitu. What a complete package, mau pilih laut bisa, mau pilih gunung hayuuuuk... Sebagai anak gunung yang tinggal di sekitaran gunung, tampaknya kegiatan di laut lebih bikin ngeces deh, secara kalau di Jogja, saya nggak berani nyemplung, laut selatan boooo...Samudera Hindia! Kalau keseret ombak, bisa berabe kan?!
Itu Jailolo yang saya tahu dari dunia maya dan tanya2.. Andai saya bisa ke sana..nanti saya tulisin cerita lengkapnya deh. Kalau ada yang mau dikirimin kartu pos, hayuk juga lah.. Gambarnya edisi jadul ya.. Kamera saya kamera lawas soalnya. Somebody....take me there, plese.... Mau deh saya dapet tiket gratisan buat pergi ke sana. Backpack dan kamera analog saya juga sudah siap untuk diajak serta.

Selasa, 02 April 2013

Modem vs Petir serta ke-riweuh-an setelahnya

Duluuuuuuuu sempat TV saya menjadi korban sambaran petir. Untungnya,waktu itu yang rusak bukan layar TV nya, cuma salah satu colokan buat antenanya yang tidak bisa digunakan lagi. Karena TV saya punya beberapa colokan, jadilah masalah ini bisa dihiraukan.

Dan kemarin, petir lagi-lagi membuat peralatan listrik saya rusak, kali ini adalah modem. Sebelumnya, saya pikir modem akan aman dari petir, apalagi ada tulisan anti petir di kemasan modem. Mungkin saking hebatnya sambaran petir kemarin sore, modem pun keok. Yang mengalami kejadian ini bukan hanya di rumah saya, tetangga-tetangga di sekitar rumah yang juga menggunakan modem dari Sp***y juga mengalami hal yang sama. Teknisi dati telkom yang saya hubungi via telpon meminta saya untuk menukarkan modem ke plaza telkom. Sayangnya, ternyata telkom cabang magelang sedang kehabisan stok modem selama minggu ini,jadilah saya harus bersabar minimal satu minggu.

Sampai di rumah, bongkar-bongkar lemari dan ketemulah modem adsl jaman dulu. Saya pikir bisa dipakailah yaa... Setelah pasang kabel ini-itu di sana-sini, koneksi internet pun masih belum ada. Coba searching lewat handphone,diselingi dengan beberapa kali hp hang, masih belum ada hasil positif. Modem sudah saya setting via 192.168.1.1 masih belum bisa juga. Akhirnya saya hubungilah 147 untuk minta bantuan. Setelah laaamaaaaaaa, ngikutin perintah dari mbak operatornya,masih belum bisa. Mungkin karena mbaknya sudah menyerah, apalagi settingan dari IE komputer saya tidak sama konfigurasinya dengan milik mereka, agak lama saya tidak mendengar apa-apa dari telepon. Si operator saya panggil-panggil tidak menjawab. Saya tutup telepon. Saya coba lagi untuk browsing, dan eng...ing....eng...nyambung internetnya! hahahahaa...Haduh, jadi merasa bersalah sama mbak operator 147. Kalau telpon lagi, belum tentu terhubung sama operator  yang tadi kan ya? Mbaknya juga tidak menghubungi saya. Belum sempat mengucapkan terima kasih lah saya.

Untuk mbak-mbak operator yang tadi saya hubungi, terima kasih ya atas bantuannya. Mungkin lain waktu saya akan memanggil teknisi saja ke rumah. atau saya belajar lagi untuk utak-atik komputer saya. hehehe

Nah, sekarang ada baiknya kalau cuaca sudah tidak bersahabat, petir saling sambar, cabut semua kabel. Nggak cuma kabel listriknya, tapi juga kabel antena untuk TV dan kabel telpon,biar aman! Kalau bisa juga jangan pakai headset, soalnya dulu pernah kuping saya kesetrum gara-gara pake headset waktu ada petir besar. Entah dari mana aliran listriknya, tapi kalau sudah hujan petir, mending tidur sajalah kalau begitu sembari berdoa semoga cuaca kembali baik.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Oleh-oleh dari Berpetualang

Kali ini saya tidak akan berbicara mengenai satu objek benda atau tempat secara spesifik. Saya ingin berbagi  mengenai aktivitas favorit saya sejak kecil, yaitu: BERPETUALANG. Kata yang saya pilih ada petualang karena kata ini sangat sering disebut di buku favorit saya, lima sekawan. Entah kenapa, berpetualang adalah obsesi saya dari kecil. Not a real adventure actually, tapi perjalanan bersama kawan-kawan sering saya bayangkan sebagai petualang ala lima sekawan. I was not alone that time, saya dan beberapa kawan bahkan berencana untuk membeli teropong, lup, dan kompas sebagai senjata untuk berpetualang.

Petualangan masa kecil saya memang bukan seperti petualangan lima sekawan yang sering berkemah atau bersepeda dan bertemu penjahat. Jadwal sekolah yang padat (sejak kelas 4 SD saya bersekolah sampai pukul 16.00) jelas memangkas kesempatan untuk bermain sepulang sekolah. Waktu yang bisa dimanfaatkan otomatis hanya hari minggu. Waktu itu biasanya kami bersepeda dari pagi hari, berkeliling kota. Tapi yang hingga kini masih saya ingat adalah ketika berjalan menyusuri sungai. Petualangan sepanjang sungai ini beberapa kali bisa terlaksana karena ada tugas sekolah. Yak, cerita detail tentang perjalanan menyusuri sungai akan saya tulis lain kali saja karena akan sangaaaat panjang.

Beranjak dewasa, saya masih sangat menggandrungi dengan yang namanya berpetualang. Masa SMP dan SMA tidak banyak memberikan jejak yang jelas di ingatan, tapi masa kuliah adalah masa keemasan. Tampaknya saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpetualang daripada kuliah. Petualangan untuk mengeksplor makanan biasanya. Awal kuliah hingga pertengahan, saya punya sahaat karib yang sering bersama ngalor-ngidul (bahasa jawa untuk utara-selatan/muter-muter nggak jelas) entah ke mana. Tapi, karena saya adalah yang terakhir tinggal di kampus, akhir-akhir ini saya lebih sering sendirian ketika berpetualang. Saat itulah saya mulai berpikir betapa cintanya saya dengan petualangan.

Berpetualang bukan bercerita mengenai tujuan akhir, tapi tentang perjalanannya. Berpetualang tidak bercerita mengenai hasilnya, tapi proses. Begitulah yang ada di dalam pikiran saya. Ketika melakukan perjalanan sendirian, banyak hal yang terbersit di otak, banyak hal dalam hidup yang bisa direfleksikan. Melihat apa yang ada di sekitar kita membuat hati dan pikiran terbuka. Udara yang sejuk ketika keluar dari kota membuat hati bahagia. Langit yang biru berhias dedaunan hijau membuat perasaan tenang. Kurang lebih itulah yang membuat saya sangat menikmati petualangan saya.

Petualangan yang dilakukan sendiri dan yang dilakukan bersama rekan tentu berbeda. Masing-masing memiliki kenikmatan tersendiri. Ketika berpetualang bersama kawan, yang satu pikiran tentunya, perjalanan akan terasa lebih seru. Dan yang pasti ada yang mengabadikan keberadaan kita di objek yang dituju. Tapi, seperti yang saya ceritakan tadi, saat ini saya lebih sering melakukan solo trip alias perjalanan seorang diri. Banyak orang yang bertanya kenapa saya melakukan ini. Awalnya memang karena terpaksa, saya sudah tidak sabar untuk berjalan-jalan, tapi tak ada teman yang mau ikut serta. Saat ini saya sudah terbiasa dan sangat menikmatinya. Perjalanan terakhir kemarin adalah ke 3 pantai di gunung kidul, Nguyahan, Ngobaran, dan Ngrenehan. Dan hampir semua perjalanan petualangan saya ini tidak direncanakan jauh-jauh hari. Paling pol satu hari sebelumnya. 

Perjalanan seorang diri sangat pantas disebut petualangan, apalagi kalau menuju tempat yang belum sama sekali pernah kita jamah. Herannya, walau selalu sampai di tujuan dengan tepat, perjalanan yang saya tempuh pasti berputar-putar. Itulah yang saya sebut petualangan. Nyasar! Ya, nyasar adalah bentuk petualangan saya. Walau berbekal peta, GPS, dan petunjuk orang, pasti tetap saja saya nyasar. Untungnya tujuan utama tetap akan tercapai. 

Perjalanan saya ke pantai Ngobaran bisa dibilang yang agak parah, karena saya nyasar dua kali, dan jaraknya hem....aduhai. Jalur yang saya tempuh saya dapatkan informasinya dari salah satu blog. Saya hanya baca sekilas dan saya tetap pada jalur yang benar sampai di pertengahan perjalanan, setelah itu saya ambil belokan ke kiri, dan ternyata saya kembali ke jalan Wonosari. Putar baliklah saya. Saya baca ulang blog itu, ada tulisan kalau kita harus belok kanan kalau bertemu pertigaan. Oke, saya percaya kali ini. Beberapa pertigaan saya lalui dan saya terus belok kanan. Dan berakhirlah saya di antah berantah. Saya cek GPS, lumayan jauh nyasarnya. Enggan menyusuri jalanan berlubang lagi, saya pikir saya bisa ambil jalur lain karena sebelum saya nyasar sejauh ini saya bertemu pertigaan, pasti saya akan muncul di pertigaan yang sama. Ow..ow..saya salah. Saya memang kembali ke jalur yang benar, tapi ini terlalu jauh dari jalur awal kenyasaran saya... Kalau dihitung dengan rumus Phytagoras, jalur pertama saya adalah garis miringnya, jadi bisa kebayang betapa jauhnya saya berjalan, dan ujungnya saya muter-muter. Itu belum semuanya, waktu pulang saya masih harus berurusan dengan rumus phytagoras karena saya berharap menemukan jalur baru, dan ternyata saya muncul di jalan yang saya lalui sebelumnya. 

Berbicara tentang nyasar memang tidak akan ada habisnya, karena itulah bentuk petualangan saya. Orang lan boleh berkata saya malang, tapi saya memang anak Malang, kota Malang maksudnya dan saya orang yang beruntung. Dengan nyasar, saya menemukan hal baru dalam petualangan saya. 

Selasa, 14 Agustus 2012

Oleh-oleh dari Pegunungan Menoreh

Bisa dibilang saya adalah orang yang ngotot dan kekeh kalau sudah punya mau. Sayangnya, kebanyakan kengototan saya adalah untuk hal-hal yang tidak penting di waktu itu. Seperti sekarang, setelah bergelut dengan kompos dan bosan karena komposnya nggak jadi-jadi sedangkan embernya sudah penuh, sekarang saya tertarik dengan produk skin care buatan tangan.

Bermula dari entah apa, saya lupa, saya mulai berpikir untuk membuat peralatan skin care saya sendiri. Coba Anda lihat produk skin care Anda, seperti facial wash, toner, face cream, atau body lotion. Sebutkan bahan-bahan yang Anda ketahui jenisnya dan fungsinya. Kalau saya, yang bukan anak teknik kimia ataupun farmasi, hanya tahu bahan water, fragrance, beberapa jenis ekstrak seperti aloe vera, beberapa jenis minyak seperti jojoba atau lavender, dan.....tidak ada lagi. Nama-nama bahan kimia yang lain saya angkat tangan.

Tapi bukan Naning namanya kalau tidak mencari tahu. Dan saya akhirnya tahu bahwa nama-nama aneh itu adalah bahan kimia. Beberapa merupakan turunan dari petroleum. Bisa kalian bayangkan, bahan kimia entah apa itu, masuk ke dalam kulit kita, masuk ke saluran darah, dan bereaksi di dalam tubuh. Ketika orang ahli kimia membaca tulisan ini, mungkin mereka akan tertawa karena sikap saya yang meragukan produk kimia tersebut. Bahan-bahan itu memang dikatakan aman oleh badan terkait. Tapi, tetap saja, saya merasa sayang harus menyerahkan tubuh saya di bawah pengaruh bahan-bahan kimia yang tidak jelas bagi saya. Kok ya kalau saya, lebih memilih bahan alami.

Oke, kita sudahi pendahuluan tulisan kali ini. Jadi, setelah pencarian yang lama, saya putuskan untuk mencoba membuat produk skin care saya sendiri, dengan bahan-bahan alami. Produk seperti krim, lotion, atau lip balm ternyata terbuat dari tiga bahan utama, minyak, air, dan pengemulsi (emulsifier). Untuk bahan minyak, baiklah, walau hanya ada beberapa jenis minyak nabati di pasaran, saya masih bisa mendapatkan minyak zaitun atau grapeseed di supermarket. Untuk air, karena kulit saya kering, saya ingin mencoba air mawar yang bisa saya buat sendiri. Nah, untuk bahan terakhir, di beberapa tulisan yang saya baca, mereka menggunakan beeswax atau lilin lebah madu. Hem...baru kali ini saya tahu ada bahan macam ini. Pencarian online tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, saya wajib membayar tunai kali ini, uang tabungan di bank sudah ditutup untuk kepentingan belanja online. Pencarian melalui teman juga nihil, hingga akhirnya saya mendapat informasi tentang peternak lebah madu di daerah Borobudur. Di daerah Ambarawa sebenarnya juga ada, tapi karena saya tidak akrab dengan daerah yang letaknya di utara rumah, saya memilih untuk ke Borobudur.

Desa Giritengah namanya, desa yang saya tuju. Saya tahu informasi daerah tersebut dari blog yang dibuat oleh pihak desa. Karena saya buta arah, saya sulit memahami petunjuk arah yang dicantumkan. Untuk bertanya pun, malu...(alah!). Setelah pusing tujuh keliling, bolak-balik karena ujung-unjungnya saya menemukan desa yang salah, saya akhirnya bertanya kepada salah satu warga. Daaaannn....TADAAAA...sampai juga di desa giritengah. Sampai di sana, tidak saya temukan ada tanda-tanda peternak lebah berada. Tanya lagi. Ternyata saya masih harus naiiiiiiiikkk ke arah perbukitan menoreh. Huah, lagi-lagi saya mendaki gunung menggunakan motor sendirian. Untung saja, jalannya sudah aspal, bukan batu yang ditata seperti waktu ke Gunung Kidul waktu itu. Saya juga sempat berpapasan dengan sepasang bule yang juga naik motor bersama anak mereka.

Pohon kaliandra (yang ada bunga warna merahnya)
Rumah peternak lebah yang saya tuju ternyata dekat dengan spot untuk melihat matahari terbit. Sempat saya lihat, nama tempat itu adalah Eden Sunrise. Mungkin dari situ si bule malam sebelumnya. Baru kali ini saya tahu. Untunglah peternak yang saya datangi belum membuang beeswaxnya. Si Bapak mematok harga Rp 20.000,00 per kilo. Karena tidak tahu harga normal di tangan petani, saya iyakan saja tawaran harga itu, toh si Bapak sudah memurnikan lilin dari sarang lebah. Lilin lebah yang saya dapat masih belum murni sekali, tapi sudah
terlihat lah bentuknya, kalau itu adalah lilin lebah. Dan apakah kalian tahu? Satu kilo beeswax adalah jumlah yang banyaaaak sekali, mengingat jumlah yang dibutuhkan untuk membuat setengah liter body lotion hanya beberapa gram. Oke, saya punya stok banyak untuk bahan ini akhirnya.


Oya, sebagai informasi, peternak lebah di desa Giritengah memelihara lebah di hutan pohon kaliandra. Dan madu yang dihasilkan berwarna kuning terang karena kandungan bipollen dari bunga kaliandra. Satu botol madau, isinya sekitar 600 ml dihargai Rp 75.000,00. Sayangnya, kantong saya adalah tipikal kantong mahasiswa, tipis. Saya masih harus menyimpan pundi-pundi uang saya untuk membeli bahan yang lain.
sarang lebah madu

Sabtu, 11 Agustus 2012

Oleh-oleh dari Pasar Burung

Ini cerita perjalanan saya minggu lalu, waktu hari pasaran Pahing. Pahing adalah waktu pasaran di pasar burung Magelang. Ketika hari itu datang, wah, pasar jadi sangaaaaat ramai sekali. Buat saya, pasar burung adalah salah satu tempat tujuan wisata. Sejak saya masih SD, Bapak sering sekali mengajak saya ke pasar burung setiap Pahing. Waktu itu sih, saya diajak karena kerjaan saya di rumah cuma bengong. Tapi, lama-lama pergi ke pasar burung bersama Bapak jadi seperti kewajiban. Saya wajib membantu menggotong sangkar burung dari rumah ke pasar dan begitu pula waktu pulangnya.

Setelah lama meninggalkan kewajiban itu karena kegiatan perkuliahan saya di Jogja, jalan-jalan ke pasar burung kemarin menjadi sarana temu kangen saya dengan para burung di sana (halah!). Bayangan saya akan pasar burung di waktu hari Pahing adalah pasar yang ramai, ramai tidak hanya oleh perburungan. Di sana itu ya, ada tukang jagal ular, ularnya ular kobra, penjual perkakas (entah kenapa dari kecil saya suka lihat dagangan perkakas), penjual baju, mainan, dan lainnya. Jadi pasar burung sudah layaknya pasar tumpah, semua ada. Itulah kenapa, walau saya harus menggotong sangkar yang lebih besar dari badan saya dan berat karena melawan angin, saya masih saja mau ikut Bapak dulu. Belum lagi suasana pasar yang juga mirip kebun binatang, ada berbagai macam burung dari yang murah sampai yang jutaan, musang, kucing, tupai, ah sangat menyenangkan.

Datang ke pasar setelah sekian lama absen dari Pahingan, ekpektasi akan kesenangan yang akan ditemui semakin besar. Dan sampailah saya ke sana, masih bersama Bapak tapi tanpa membawa sangkar segede gaban. Hari ini saya tidak membawa sangkar, tapi membawa dua pot lumayan besar yang isinya pohon puring. Alamak, sebelum sampai pasar, Bapak melihat penjual pohon di pasar besar. Jadi, begitu sampai, muka saya berubah jadi annoyed. Mungkin bapak tahu saya enggan membawa-bawa pot itu, jadilah bapak yang membawa, dibawa keliling pasar (ah, maafkan anakmu ini ya Pak).

Pasar burung sekarang lebih kecil, mungkin karena dibagi dua untuk pasar ikan di sebelahnya. Dan karena sekarang bulan puasa, aroma masakan dari makanan membuat saya jengkel, belum lagi asap rokok. Banyak juga orang yang tidak berpuasa di sini. Dan yang lebih gawatnya lagi, sekarang saya sudah menjadi seorang wanita. Berada di kerumunan laki-laki membuat saya agak risih, apalagi saya tidak memakai jilbab yang panjang. Agak bagaimanaaaa gitu rasanya. Bapak penjagal ular juga tidak lagi membawa ular hidup, hanya beberapa gulung kulit ular dan organ dalam ular.

Saat ini burung yang sedang menjadi hot thread adalah burung kecil berwarna hijau bernama burung pleci! Harganya murah-meriah, hanya berkisar 50.000 rupiah saja. Suaranya juga keras, melengking kalau menurut saya. Tampaknya Bapak berniat untuk menambah koleksi burung di rumah. Jadilah beliau berhenti dan mengamati burung mana yang suaranya bagus. Pengamatan ini berlangsung sangaaaat lama, dan tugas menjaga pot berpindah ke tangan saya. Karena bosan, saya angkat saja pot itu dan berjalan mendekati bapak. Tampaknya bapak tahu kalau saya sudah bosan di sana. Dan akhirnya kami pulang tanpa saya harus merengek, setelah bapak membeli burung pilihannya tentunya.

sekawanan burung pleci bersama dalam satu sangkar (kasian liatnya..)

Kamis, 02 Agustus 2012

Masih oleh-oleh dari membuat kompos

Membuat kompos itu mungkin seperti punya seorang bayi. Saya belum memiliki anak sih, tapi ya saya sedikit -sedikit tahu lah bagaimana rasanya. Dulu saya pikir membuat kompos dari sampah rumah tangga itu seperti menjetikkan jari. Tapi karena belum pernah terjun langsung untuk membuat sendiri, saya masih belajar banyak hal.

Usia kompos yang saya buat belum juga sampai usia satu minggu, saya sudah tidak sabar untuk melihat hasil akhirnya. Daripada menunggu hasil yang masih lama datangnya, saya berusaha untuk menikmati prosesnya saja. Dua hari terakhir ini saya perhatikan, tumpukan sampah dalah ting komposter memiliki bentuk yang sangat tidak cantik. Well, saya juga nggak tahu parameter cantik untuk kompos itu seperti apa. Yang pasti, tumpukan sampah itu menjadi sangat menjijikkan. dan yang utama adalah, bau.

Dilihat-lihat, ada yang kurang dari komposisi kompos ini. Hem..terlalu basah rupanya. Sistem drainase composter tidak terlalu baik. Air penyiraman yang berlebih tidak keluar dan terkumpul di dasar. Akhirnya saya putuskan untuk menambah daun-daun kering. Pertanyaannya, dari mana saya dapatkan daun kering ketika rumah saya yang sekarang tidak memiliki pohon besar? Ada memang di sekitar rumah, tapi saya sebagai warga baru di sini sangat gengsi untuk mengumpulkan daun kering dengan tangan. Duh... Karena masih merasa komplek rumah sakit sebagai rumah, daun-daun kering dari sana saya impor ke komplek rumah yang baru. Hasilnya, composter saya kepenuhan sebelum semua daun kering bisa tertampung! Hahahaha...

Ah, tidak sabar saya untuk bisa melihat kompos sudah yang sudah jadi. Secepatnya.

Senin, 30 Juli 2012

Oleh-oleh Pembuatan Kompos

Pada beberapa post yang lalu saya bercerita saya membuat composter di rumah. Ibu tampak sangat bersemangat untuk mengisi composter dengan sampah-sampah rumah tangga yang jumlahnya tidak sedikit (menurut saya) itu. Setiap hari beliau dengan senangnya memotong-motong sampah sayuran menjadi potongan kecil agar sampah mudah terdegradasi menjadi kompos.

Kami belajar bersama dalam membuat kompos ini. Ada beberapa hal yang kami temukan sejauh ini. Awalnya ada beberapa semut yang tertarik dengan sampah yang dikumpulkan di tong composter. Sesuai saran orang-orang yang pernah membuat kompos sebelumnya, saya siram sampah-sampah itu dengan sedikit air dan mengaduk-aduk hingga rata.

Tadi pagi ada lagi yang muncul. Lalat! Ada seekor lalat buah di dalam composter. Bukan pertanda baik bila lalat mulai tertarik. Saya pikir tumpukan sampah ini kekurangan bahan kering. Karena tidak ada daun kering yang bisa saya tambahkan, saya tambahkan ke dalam composter potongan kertas koran. Hal ini bisa membuat permukaan sampah basah menjadi tertutup dan mengurangi perhatian lalat.

Dan saat ini saya sedang mencari cara bagaimana cara untuk mempercepat pengomposan. Entah memakai bakteri EM4 atau mengestrak bakteri (oke, ini bukan istilah yang tepat) dari bahan alami. Dan tampaknya saya harus membuat satu composter lagi. Ketika composter yang pertama penuh, saya bisa mulai mengisi composter kedua dan menunggu sampah di composter pertama matang dan menjadi kompos.

Oleh-oleh belajar menjadi ibu rumah tangga

Haha! Judul postingan kali ini sedikit aneh. Untuk terus menerus menulis hari keberapa di bulan ramadhan ini tampaknya memperlihatkan betapa jarangnya saya menulis dan berkegiatan. Tapi bagaimanapun saya mencoba untuk menulis daripada catatan harian saya menguap begitu saja atau hanya saya simpan sendirian. Toh di tulisan saya tidak banyak menulis mengenai kehidupan pribadi saya.

Kenapa harus belajar menjadi ibu rumah tangga? Karena itu adalah fitrah sebagai seorang wanita. Walau saya akan menjadi wanita karir nantinya, saya toh tetap harus mengurus rumah selayaknya ibu. Dan hingga saat ini saya masih berperilaku seperti anak kecil di rumah. Secara tidak langsung hati saya mulai menunjukkan sisi keibuan tanpa disadari. Banyak hal yang dalam otak saya bekerja selayaknya seorang ibu, contohnya mulai belajar memasak.

Oke, saya tertarik untuk memasak sejak lama, namun saya jarang melakukannya. Ketika di kos, yang membuat saya malas memasak adalah saat saya harus makan hasil masakan saya sendirian. Sangat tidak menyenangkan. Parahnya, ketika di rumah, saya juga jadi malas memasak karena jarang ada yang menghabiskan makanan hasil masakan saya kecuali saya sendiri. Mungkin hal ini terjadi karena masakan saya jarang memperhatikan penampilan.

Hari ini saya mendapatkan tips untuk membuat gorengan ketika menonton acara ITADAKIMASU di channel NHK. Dan sore ini juga langsung saya praktekkan. Hasilnya tidak mengecawakan secara penampilan. Namun, saya lupa pada segi rasa.Jamur goreng yang saya buat tidak ada rasanya! Haha, saya lupa menambahkan garam di adonan tepungnya. Oke, kalau begini lain kali saya akan lebih hati-hati. Setidaknya saya belajar untuk menggoreng dengan konsistensi adonan yang baik dan suhu penggorengan yang tepat. Adonan tepung yang saya buat masih memiliki beberapa bagian tepung yang menggumpal, hal ini bisa membuat hasil gorengan tidak basah oleh minyak. Selain itu suhu minyak sewaktu menggoreng harus cukup panas, namun tidak menggosongkan gorengan.