Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 20 Juli 2012

Marhaban yaa Ramadhan

Hari ini saya sedang tidak ke mana-mana, jadi tidak ada oleh-oleh untuk tulisan kali ini. Hari ini saya sibuk bersantai tanpa pekerjaan berarti. Memandangi Bapak yang masih saja sibuk membenahi rumah baru yang sudah direnovasi selama 2 bulan lamanya, merusak jadwal makan siang karena salah dalam memasak nasi, dan marah-marah melihat adik semata wayang yang leletnya bukan main. Jadwal yang sangat padat bukan? Itu masih belum ada apa-apanya, agenda paling besar saya saat ini adalah menata hati. Ramadhan sudah di depan mata (bahkan sudah ada beberapa saudara Muslim yang memulai ibadah puasanya). Tapi entah kenapa belum terasa gregetnya hingga lubuk hati paling dalam. Mungkin hati saya memang sudah tertutupi oleh logika duniawi semata.

Selamat datang wahai bulan penuh berkah. Semoga tahun ini saya tidak lagi menyia-nyiakan seluruh kesempatan yang ada seperti waktu yang lalu. Untuk itu, hati ini kembali ditata, kembali kepada-Nya. Bukan untuk satu bulan ini, tapi untuk satu tahun ke depan. Hingga menemui bulan penuh ampunan ini lagi.

Yang paling mencolok dan menarik perhatian saya di awal Ramadhan ini adalah perbedaan waktu awal bulan Ramadhan yang ditetapkan oleh pemerintah dan beberapa ormas Islam yang ada di Indonesia. Saya sendiri bukan berasal dari salah satu golongan ormas mana pun. Namun, pada kasus ini saya memilih (bukan memakai undian kancing lo ya) untuk mengikuti keputusan pemerintah. Awalnya saya memilih mengikuti pemerintah karena ajaran orang tua saya yang PNS (pemahaman yang paling dasar dan ngasal). Lalu ketika duduk di bangku sekolah saya mulai belajar ilmu agama dan bertambah yakin bahwa umat harus tunduk kepada pemerintahnya selama pemerintah berlaku adil dan bijaksana. Selain itu segala resiko mengenai hal ini akan ditanggung oleh si pembuat peraturan. Oke, saya rasa pemahaman saya mulai ada dasarnya. Dan sekarang, ketika saya sudah mencapai usia dewasa, di mana kita harus bisa berpikir, saya mulai berusaha memikirkan jalan mana yang harus saya ambil.

Ilmu agama bukanlah ilmu yang bisa dibuat sebagai mainan. Saya mulai mencari informasi dari berbagai macam sumber yang dapat dipercaya. Kenapa harus dari sumber yang dapat dipercaya, karena banyak sekali informasi yang tidak jelas di luar sana. Dan kembali ke bulan Ramadhan, saya mulai mencari tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Sejak tahun lalu, media sangat gencar menyebarkan informasi mengenai perbedaan yang ada di antara ormas Islam dan pemerintah, mulai dari tudingan bahwa pemerintah adalah arogan sampai tudingan salah satu ormas tidak mau mengalah hingga terjadi perpecahan umat. Dari awal saya melihat fenomena ini, saya masih yakin pada hati saya. Namun, kepercayaan dengan dasar yang rapuh harus saya perkuat lagi. Ada beberapa pilihan untuk membangun kepercayaan yang kuat, membongkar kepercayaan yang lama atau langsung saja menambah pondasi yang sudah ada. Saya biarkan otak saya mencari kebenaran dan dituntun hati tentunya tanpa tendensi ke golongan mana pun.

Pencarian saya akhirnya sampai juga di website rukyatul hilal. Website ini sudah pernah saya sambangi tahun lalu tapi hanya sekilas. Dari kemarin, ketika ramai-ramainya sidang isbat saya mulai datang lagi ke website itu. Belum puas, saya berselancar lagi dan mampir di blog salah satu ahli LAPAN milik pak djamaludin di sini. Nah, dari blog inilah saya mulai belajar mengenai astronomi. Waktu SMA saya sih mengakunya anak IPA dan materi mengenai siklus bulan sudah saya anggap gampang karena sudah dipelajari dari SD. Namun, ternyata saya salah. Banyak konsep yang belum saya pahami. Oke, saya memang dari generasi hapalan, yang penting hafal semua jawaban soal. Bagi teman-teman yang tertarik, coba saja membaca artikel yang ada di blog tersebut. Bagi saya, ada sedikit hasilnya. Saya tidak perlu merobohkan keyakinan saya (mengenai waktu Ramadhan) tapi cukup menguatkan pondasi yang sudah ada. Saya jadi tahu apa yang menjadi dasar keputusan pemerintah dan mengapa tahun lalu Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak kompak dengan Arab Saudi. Saya tidak ingin menyudutkan pandangan orang lain sih. Saya cuma gerah dengan tudingan-tudingan yang saling dilontarkan beberapa pihak yang berseberangan. Ketika umat di Indonesia, syukur-syukur di dunia sudah kompak, betapa bertambah indahnya bulan Ramadhan ini. iya tidak?


0 komentar:

Posting Komentar